Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Prolog Pencinta Alam

Oleh : Rahmat Al Kafi*

A. Manusia dan Alam 
Manusia adalah hewan yang berpikir? Manusia sangat bergantung dengan alam untuk menghidupi diri dan berkembang biak. Sementara alam berkembang biak melalui proses siklus, proses rantai makanan. Tanpa manusia pun alam akan tetap hidup. Manusia kemudian menggunakan alam sebagai kebutuhan, merekayasa tumbuhan menjadi tumbuhan-tumbuhan unggul, seperti buah-buahan, dll. Ataupun menggunakan hasil-hasil alam sebagai kebutuhan proses hidup di perkotaan. Seperti karet, minyak bumi, kayu, batu bara, emas, perak dsb. 

Karena proses ini pula, alam kemudian terlalu dikuras untuk produksi keinginan manusia yang berorientasi pada produksi yang besar serta untuk mendapatkan profit yang besar pula (inilah yang disebut industri). Maka timbulah ketidakseimbangan alam. Bencana-bencana pun mulai muncul, banjir, kemarau panjang, keracunan, lepasnya satwa-satwa liar ke pemukiman manusia, karena pemukiman satwa-satwa liar tadi telah diusik. Dengan kondisi ketimpangan di atas, alam yang awalnya menguntungkan manusia berubah menjadi ancaman hidup bagi manusia. Karena hal ini, maka munculah para pemerhati, pelestari, relawan-relawan dan Pencinta Alam.


B. Pencinta Alam 
Pencinta dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya orang yang sangat suka atau gemar akan. Jadi arti pencinta alam dalam arti bahasa adalah orang yang sangat suka atau gemar akan alam. 

Pencinta Alam dalam istilah adalah sebuah organisasi yang mencintai alam, melestarikan lingkungan, meneliti lingkungan, menikmati lingkungan, belajar dari lingkungan, melakukan petualangan ke alam bebas, organisasi yang punya anggota ulet, solid, loyal, cerdas dalam berpikir dan bereaksi. 

a) Sejarah Pencinta Alam 
Dari catatan yang diketahui, Pencinta Alam pertama di Indonesia adalah PPA. PPA adalah singkatan dari Perkumpulan Pentjinta Alam, tepatnya didirikan tanggal 18 Oktober 1953. Organisasi ini berkedudukan di Jogjakarta. Tujuan PPA yang tercantum dalam Anggaran Dasarnya adalah memperluas serta mempertinggi rasa cinta terhadap alam seisinya dalam kalangan anggota-anggotanya dan masyarakat umumnya. Hingga setelah itu muncullah pencinta-pencinta alam lain di penjuru-penjuru Indonesia, entah yang berbentuk KPA, Sispala, dan Mapala. 


KPA (Kelompok Pencinta Alam) 
Organisasi Pencinta Alam yang beruanglingkup umum, berlaku untuk masyarakat umum. Siapa saja bisa menjadi anggota, intinya melewati proses pendidikan dasar. 

SISPALA (Siswa Pencinta Alam) 
Organisasi Pencinta Alam yang beruanglingkup di sebuah sekolah tingkatan SMP atau SMA, berlaku untuk ruang lingkup sekolah itu.

MAPALA (Mahasiswa Pencinta Alam)
Organisasi Pencinta Alam yang beruanglingkup di Perguruan Tinggi, anggotanya hanya terdiri dari mahasiswa dimana mapala itu berkedudukan. Anggota dari luar kampus biasa disebut Anggota Kehormatan.

b) Sejarah Mahasiswa Pencinta Alam 
Pada tahun 1964 di Universitas Indonesia, Soe Hok Gie bersama sahabat-sahabatnya mendirikan Organisasi Pencinta Alam. Yakni Mapala Prajnaparamita FSUI (pada tanggal 12 Desember 1964) nama pemberian dari Drs. Moendardjito (Pembantu Dekan III – Fakultas Sastra) Mapala: Mahasiswa Pentjinta Alam, dan Prajnaparamita artinya dewi pengetahuan, Mapala juga berarti berbuah dan berhasil, yang kemudian pada tahun 1971 seluruh Organisasi Pencinta Alam di lingkup Universitas Indonesia menyatukan diri dalam MAPALA UI. 

Soe Hok Gie pada waktu itu adalah seorang aktivis mahasiswa, penulis, seorang demonstran serta dia adalah pengkritik sosial. Ketika ditanya kenapa mendirikan Mapala? 

Gie Menjawab : 
“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami, kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya dengan slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan, seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat karena itulah kami naik gunung.” 

Karena di saat berdirinya Mapala pertama kali, juga sedang menjelang transisi rezim orde lama ke orde baru. Serta banyaknya persoalan-persoalan politik yang melibatkan mahasiswa. Gie juga mengkritik para mahasiswa-mahasiswa pergerakan yang telah terjangkit politik praktis. Sehingga perjuangan mahasiswa tidak lagi murni tapi telah keruh oleh sikap-sikap aktivis tadi. 

Berdirinya Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala), intisarinya adalah tiga hal; 
Pertama, untuk memupuk patriotisme yang sehat di kalangan anggotanya. Ini dapat di capai dengan hidup di alam dan rakyat kebanyakan. Memang tekad dari pendirian organisasi ini adalah suatu keyainan bahwa patriotisme yang sehat tidak mungkin timbul dari slogan-slogan, indoktrinasi-indoktrinasi dan poster-poster. Patriotisme hanyalah mungkin dibina atas partisipasi yang aktif dari seseorang melalui hidup di tengah-tengah alam dan rakyat pada umumnya. Adalah hal yang mustahil, bahwa cinta tanah air dapat timbul dari jendela-jendela bis, mobil-mobil mewah dan gedung-gedung kampus; Kedua, mendidik para anggotanya, baik mental maupun fisik. Sebab seorang kader yang baik adalah kader yang sehat jasmani dan rohaninya. Di sini juga ditekankan aspek edukasi tanah air secara aktif dari dekat; Ketiga, untuk mencapai semangat gotong royong dan kesadaran sosial. Sampai saat ini tujuan tadi belum tercapai secara maksimal, tetapi titik terang sudah terlihat. 

Setelah itu, Mapala kemudian menjamur di kampus–kampus termasuk di Universitas Muhammadiyah Malang, berdirilah Divisi Mahasiswa Pencinta Alam (DIMPA) pada tanggal 17 Oktober 1983. 

c) Fenomena Nama Mahasiswa Pencinta Alam. 
Mapala sebagai sebutan Khas dan Umum 
Di manapun berada sebutan khas dari para mahasiswa yang tergabung dalam organisasi pencinta alam adalah anak Mapala atau anak PA. Tanpa ada kesepakatan sebelumnya nama mapala kemudian menjadi sebutan khas untuk mahasiswa Pencinta Alam. Dan PA untuk Pencinta Alam secara umum.

Keunikan Nama-Nama MAPALA 
Mahasiswa Pencinta Alam setelah berdirinya pertama kali pada tahun 1964 lalu kemudian menjamur. Ada keunikan lainya yaitu persoalan namanya yang sama-sama berarti Mahasiswa Pencinta Alam namun dengan singkatan yang berbeda-beda. Antara lain : Mapala, Mahapena, Mahacita, Macita, Mapena, Mapenta, MPA, Mahitala, Mahapala dsb. 

Adapula yang menambahkan Ikatan, Persatuan, Divisi, Kelompok, Organisasi, Himpunan, Perkumpulan dll. 
Selanjutnya model-model nama lain seperti, Mahasiswa Islam Pencinta Alam, Mahasiswa Hukum Pencinta Alam, Mahasiswa Komputer Pencinta Alam, Mahasiswa Muhammadiyah Pencinta Alam, Mahasiswa Teknik Pencinta Alam. Serta tambahan-tambahan lain sesuai dengan identitas kampus kedudukan. 

Kontroversi Pen-cinta Alam dan Pe-cinta Alam 
Kontroversi Pen-cinta Alam dan Pe-Cinta Alam tidak hanya menjadi persoalan bahasa, tapi sudah melampaui makna itu sendiri, sejarah, maksud, dll. Memang, dalam kamus bahasa Indonesia ada yang memakai kata Pencinta Alam ada yang pecinta alam. Hingga nama-nama organisasi pun ada yang memakai Pencinta Alam ada juga Pecinta Alam. Namun dari sejarah yang penulis ketahui, kata Pentjinta Alam lah yang pertama kali dipakai. Sama seperti awalan lain seperti Penjudi, Pencipta, Pencuri, Pencari, dll. Namun kita tidaklah harus berdebat dengan persoalan ini. Namun bila ada kesempatan yang memaksakan hal ini, keluarkan pendapat menurut akal sehat anda. 

d) Menjamurnya Mapala, dari tingkatan Universitas, Fakultas, Jurusan, Hingga Program Studi 
Di sebuah kampus bisa saja terdiri dari banyak Mapala, ada Mapala di tingkatan Universitas, ada yang Fakultas, Jurusan hingga Program studi. Adapula universitas yang tidak mempunyai mapala fakultas hanya Mapala tingkatan Universitas, ada juga Universitas yang terdiri dari Mapala Fakultas tanpa Mapala Universitas. Begitu seterusnya. 

e) Pencinta Alam Hari Ini. 
Pencinta Alam hari ini dalam perlombaan melakukan hal-hal yang bersifat petualangan, pendakian gunung es, tebing-tebing terjal, sungai-sungai yang tinggi gradenya. 

Mapala hari ini sudah mulai bergeser dari khittah berdirinya. Tidak lagi menjadi pengkritik-pengkritik pemerintah. Lebih asyik dengan dunianya sendiri. Menjadi penakluk-penakluk gunung, tebing, dan medan-medan lainnya. Lebih mengejar hal-hal yang mampu memuaskan hasrat kegemaran. Sangat jauh dari cita-cita awal para tokoh pendiri Mapala. Soe Hok Gie dan sahabat-sahabatnya. 

Pada konsep idealnya mapala adalah organisasi yang mampu unjuk gigi di dunia, Petualangan, Ilmiah dan Sosial. Cinta alam, rakyat, tanah air, dan almamater.

Petualangan dalam hal ini meliputi aktifitas pencinta alam di dunia petualangan alam bebas, mendaki gunung, berarung jeram, menyelam, menelusuri goa, memanjat tebing dan petualangan-petualangan sejenis lainnya. 

Ilmiah dalam hal ini adalah pencinta alam sebagai pemerhati, pelestari terhadap kondisi lingkungan, serta dapat melakukan penelitian – penelitian tehadap dampak - dampak lingkungan. 

Sosial, yang dimaksudkan Mapala dapat terjun langsung dalam isu-isu sosial, penanggulangan bencana, kondisi sosial masyarakat, HAM, kesehatan, ekonomi, politik, ketentraman umum dll. Yang intinya Mapala dapat menjadi ujung tombak menuju kesejahteraan Masyarakat. Sesuai dengan prinsip Cinta alam, tanah air, rakyat dan almamater.

f) Budaya Mapala 
Budaya dan Kebiasaan Mapala, eratnya hubungan emosional sesama Mapala, saling jamu-menjamu, tolong-menolong sesama Mapala. Ada tempat persinggahan di hampir seluruh daerah di Indonesia, dengan cukup mengaku menjadi pencinta Alam. (walau kadang ada yang hanya mengaku-ngaku)

Mapala dikenal ulet dalam hal bekerja dalam organisasi, mampu membuat konsep dan mengimplementasi ide dalam kinerjanya. 

Mapala yang warna warni dalam penampilan, ingin menembus batas-batas formalitas yang terlalu kaku. 

g) Forum Pencinta Alam dan Forum Mahasiswa Pencinta Alam.
Akibat banyaknya Pencinta Alam di Indonesia kemudian lahirlah sebuah forum Penccinta Alam, forum komunikasi, informasi dan interaksi sesama Pencinta Alam. 

GLADIAN PENCINTA ALAM INDONESIA 
Gladian adalah forum pencinta Alam seluruh Indonesia yang pesertanya adalah seluruh organisasi Pencinta Alam di Indonesia, baik umum, Mahasiswa, atau siswa. Gladian juga tempat lahirnya Kode Etik Pencinta Alam. 

TWKM MAPALA SE – INDONESIA 
TWKM singkatan dari Temu Wicara dan Kenal Medan Mahasiswa Pencinta Alam tingkat Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia. Wadah para Mapala untuk bertukar ilmu, mengusung ide, belajar bersama, untuk kepentingan Mapala Se-indonesia. 

JAMBORE MAPALA MUHAMMADIYAH 
Forum Mapala Perguruan Tinggi Muhammadiyah Se-Indonesia. 

FKPA MAPALA JAWA TIMUR 
Forum Organisasi Pencinta Alam se-Jawa Timur. 

FORUM MAHAMERU MALANG (FORUM PENCINTA ALAM MALANG) 
Forum Pencinta Alam Se- Malang Raya. 

serta banyak forum lainnya....

_______________________________________________________________
*Anggota Divisi Mahasiswa Pencinta Alam (DIMPA) Universitas Muhammadiyah Malang


Disampaikan pada Diklatsar 29 - 2011, DIMPA Univ. Muhammadiyah Malang.


Referensi
Rudy, Badil. Norman Edwin – Sahabat Sang Alam. Jakarta: KPG. 2010
dan disadur dari berbagai sumber.



Posting Komentar untuk "Prolog Pencinta Alam"