Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Berpetualang ke Pulau Miangas, Pulau Paling Utara Indonesia (4)

Menuju Miangas...

Perairan Kepulauan Talaud (KM. Meliku Nusa)
Senin, 7 Oktober 2013

Pagi pukul 09.20 WITA, saya diantar bang Oliver ke pelabuhan Melonguane. Sampai di pelabuhan pukul 11.00. Karena ingin membeli beberapa peralatan, saya minta tolong diantar ke pasar. Setelah itu mampir untuk makan. Semua dibayarkan oleh bang Oliv sampai beberapa perlengkapan ke Miangas. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Kami menunggu kapal hingga pukil 16.00. Saya sudah sarankan bang Oliv untuk pulang, nanti saya menunggu sendirian. Tapi bang Oliv tetap bersikukuh untuk tinggal dan menemani. Saat menunggu kapal, saya dipertemukan dengan pengurus desa Miangas oleh salah satu buruh kapal. Jabatannya Kepala Urusan Pemerintahan. Saya berkenalan dan janjian untuk nanti ngobrol di atas kapal.

Setelah sempat hujan deras ditambah angin kencang, kapal pun akhirnya tiba sejam setelah hujan reda. Saya dibantu bang Oliv membawa tas ke atas kapal. Saya di dek bagian dasar. Setelah itu saya berpamitan dan berterima kasih. KM. Meliku Nusa adalah kapal yang paling rutin ke Miangas. Tapi, kondisinya sangat kotor dan tua. Di atas kapal bau pesing. Harapan saya, kapal ini bisa sampai ke Miangas dengan selamat. Setelah kapal mulai bergerak membelah lautan, saya ngobrol-ngobrol dengan pengurus desa yang tadi, namanya Pak Arnol. Beliau orang asli Miangas. Saya mohon izin ke beliau untuk sekalian mewawancarainya dan merekam percakapan kami. Beliau setuju. Beliau juga sangat komunikatif dan blak-blakan. Menurutnya, pembangunan di Pulau Miangas sudah bagus. Infrastruktur seperti jalan, dermaga, pengerjaan bandara, kantor-kantor dsb. Hanya yang menjadi sorotan utama adalah perlunya pengembangan sumberdaya manusia di Miangas. Saran beliau adalah penyediaan beasiswa kuliah di perguruan tinggi untuk anak-anak Miangas. Karena, kebanyakan anak Miangas yang telah lulus hanya menganggur, atau menjadi Nelayan atau hanya mabuk-mabukan. Selain itu, beliau juga menyorot masalah pembebasan lahan lahan bandara karena ganti rugi tanah tidak sesuai dengan janji  Presiden SBY yaitu Rp. 350.000,-/m2. Namun hanya di bayar Rp. 150.000,-/m2. Untuk soal perekonomian, masyarakat Miangas memperoleh penghasilan dari kelapa dan perikanan. Namun pembangunan bandara telah banyak mengurangi populasi pohon kelapa di Pulau Miangas. Sehingga kedepan Masyarakat hanya mengandalkan sektor petikanan sebagai mata pencaharian.  Jadi, pak Arnol berharap perhatian pemerintah pusat untuk sektor ini. Pengadaan Kapal tangkap, pengadaan pendingin ikan, rompon, dan mengundang pengusaha untuk membeli ikan sangat diharapkan masyarakat Miangas. Selebihnya Masyarakat Miangas telah banyak menikmati perhatian pemerintah yang telah dilaksanakan. Sementara untuk potensi Wisata Bahari, Pulau Miangas memiliki pasir putih dan air laut yang jernih bersih sama seperti di Bali. Serta adanya wisata adat seperti festival tangkap ikan di bulan mei yang bernama festival Lammali' dapat menjadi daya tarik wisata. Di Miangas juga terdapat pulau keramat dan peninggalan alat Perang Dunia II. Kami lama berbicara. sambil menghimpun data dari beliau.

Sekarang, saatnya menghayati kesendirian ditengah perjuangan, petualangan dan penelitian.


Posting Komentar untuk "Berpetualang ke Pulau Miangas, Pulau Paling Utara Indonesia (4)"