Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Berpetualang ke Pulau Miangas, Pulau Paling Utara Indonesia (6-Habis)

Pulau Miangas, Rabu 9 Oktober 2013

Setelah melewati perjalanan menegangkan dikarenakan gelombang tinggi dan angin sangat kencang. Kapal dipaksa menyesuaikan diri dengan gelombang laut sehingga menghasilkan goyangan hebat selama hambpir 5 jam. Kapal tiba di pulau Miangas pukul 01.25. Saya bersama bang Heddy diajak ke rumah pak Arnol. Saya bertemu dengan bang Heddy saat di kapal. Dia adalah teknisi dali dealaer eskapator merk Hyundai di Mando. Dia harus ke Miangas untuk memperbaiki eskapator yang rusak karena masih memiliki garansi. Di rumah pak Arnol kami minum-minum kopi. Selang beberapa waktu, kami diantar ke rumah pak Steven yang juga menjadi kepala kecamatan kecamatan khusus Miangas. Di rumah pak camat saya diberi data tentang pulau Miangas dan saya juga sempatkan untuk wawancara informal dengan beliau. Kebetulan di rumah pak camat ada orang dari BNPP - Badan Nasional Pengelola Perbatasan. Namanya Hendrik. Kami bertukar nomor telepon. Saya minta tolong suatu saat bisa memperoleh data tentang perbatasan ke beliau.


Menurut penjelasan pak Camat, permasalahan warga saat ini adalah kelangkaan BBM, yang terutama bensin dan solar. Warga Miangas terpaksa harus menyelundupkan BBM dari Melonguane atau Bitung. Karena sebenarnya BBM dilarang untuk dimuat di atas kapal. Katanya, Bensin di Miangas bisa dihargai Rp. 25.000,- sampai Rp. 40.000,-/liter. Masyarakat Miangas berharap untuk pemberdayaan masyarakat di bidang perikanan. karena hanya ini satu-satunya harapan penghidupan warga Miangas. Setelah pembangunan bandara, lahan pertanian telah menipis. Jadi, masyarakat Miangas hanya berharap dari satu bidang ini. Masyarakat Miangas berharap pengadaan kapal tangkap, pendingin ikan, bahan bakar dan perlengkapan lainnya.

Bangunan di Miangas kebanyakan telah permanen. Mirip seperti kompleks perumahan dengan jalan beton. Selama saya di sini, angin kencang tidak pernah berhenti berhembus. Nampak pohon kelapa yang tertiup angin. Saya sangat bersyukur dapat kesini, pulau paling utara Indonesia. Setelah pukul 06.30, saya mengambil foto di beberapa lokasi di Miangas. Setelah selesai, Saya kembali menaruh barang di atas kapal karena kebetulan kapal masih sandar hingga subuh. Setelah menaruh barang saya kembali ke rumah pak Arnol untuk makan siang. Sqya memutuskan kembali melanjutkan perjalanan karena bila harus menunggu kapal selanjutnya sekitar dua minggu lagi, itupun tidak pasti tergantung cuacanya.

Posting Komentar untuk "Berpetualang ke Pulau Miangas, Pulau Paling Utara Indonesia (6-Habis)"