Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Berpetualang ke Pulau Miangas, Pulau Paling Utara Indonesia (3)

Beo Utara, Minggu 6 Oktober 2013

Saya menginap di tempat kost bang Oliv. Katanya, dia sudah dua tahun di sini. Di salah satu rumah warga. Dia membayar Rp. 300.000,-/Bulan. Itu sudah termasuk makan dan listrik. Awalnya, ia ditawari tinggal di tempat yang lebih nyaman, tapi dia menolak, karena ingin lebih dekat dengan masyarakat. "Masa, kerja untuk masyarakat, tinggalnya di tempat mewah." Kami banyak ngobrol tentang Mapala. Saya tertarik dengan pandangannya. Kesimpulannya " Mapala sudah mulai lupa mengabdikan diri kepada masyarakat setelah turun dari gunung." Mapala yang lebih suka ikut lomba daripada berpetualang. Anak Mapala yang malas membaca. dst. Kami juga sharing-sharing tentang pengalaman dan cerita kehidupan.

Saya sekalian belajar beberapa teknik-teknik fotografi dari bang Oliv. Di sini, saya sulit mengetahui waktu shalat karena tidak terdengar suara adzan, karena mayoritas penduduk menganut agama kristen. Dan bang Oliv tidak pernah ke gereja selama dua tahun berada di sini, yang mana cukup bertentangan dengan kebudayaan relijius masyarakat di Talaud. Hari Minggu dipakai untuk beribadah dan beristirahat. Setelah ngobrol lama, ternyata bang Oliv, penganut Kristen Katholik dan Mayoritas di Talaud menganut Kristen Protestan. Bang Oliv beribadah hanya ketika berada di Manado. Jadi saya hanya memperkirakan waktu shalat dengan bantuan jam. Tapi bagi saya, di tengah perbedaan dituntut toleransi antar umat beragama.

'Negara yang memiliki pemuda yang gemar berpetualang tidak akan pernah kekurang pemimpin.' 
Sir John Ford (Mantan Dubes Inggris untuk Indonesia)


Posting Komentar untuk "Berpetualang ke Pulau Miangas, Pulau Paling Utara Indonesia (3)"