Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Beban yang Terlepas

Sedari awal, saya tidak pernah sepakat dengan beban ini. Mengapa? Karena terlalu banyak hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi. Hidup kan itu cuma sekali. Jika apa-apa yang dilakukan sama dengan orang -orang kebanyakan, maka di mana letak keindahan hidup.

Saat pertama kali dia datang, saya tidak pernah memintanya. Dan ketika beban itu pergi, dengan senang hati saya tak menolaknya.

Meski kadang berat melepas sesuatu yang kita miliki, tapi ketika "mempertahankan" jauh lebih buruk akibatnya, maka lepaskanlah. Banyak air-air yang mengalir dan hewan-hewan bersuara yang lebih indah untuk kita nikmati.

Sayangnya saya tidak begitu suka menyalahkan kesalahan-kesalahan, yang justru setiap kesalahan-kesalahan saya, terlalu banyak digugatnya. Tapi mungkin di sinilah letak perbedaannya.

Di momen yang berbahagia ini, di kala momentum transisi kehidupan kualami, banyak hal-hal yang seharusnya dapat membangkitkan "gairah" yang lama terkubur beban, yang tak pernah muncul dijepit beban. Harusnya setelah ini, dia menggelora kembali.

Banyak orang yang salah mengartikan idealisme. Idealisme itu pedoman melangkah. Idealisme bisa saja berisi banyak hal, dan dari sumber-sumber yang bermacam-macam.

Kalau Soe Hok Gie mati tak punya kekasih, dan Tan Malaka terjaga idealisme perjuangannya tanpa perempuan hingga akhir hanyatnya, kenapa kalian harus takut? Mari nikmati perjuangan, tidak individual dan berfikir untuk orang banyak.

Sekali lagi, di momen yang berbahagia ini, kita tinggalkan hal-hal yang membuat kita tidak kenal lagi diri kita, dan tidak kenal lagi jalan kita ke depan.

Di momen yang berbahagia ini, saya telah melepas satu beban hidup.


Posting Komentar untuk "Beban yang Terlepas"