Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

FGD IKAMI Jakarta, MEA: Sebuah Kompetisi atau Invasi

Ketua Umum IKAMI Sulsel Cabang Jakarta dengan latar kegiatan

Sabtu malam, tanggal 20 Desember 2014, di halaman Asrama Mahasiswa Sulsel, Jl. Talang, Pegangsaan, Jakarta, diadakan kegiatan Focus Group Discussion dengan tema: Masyarakat Ekonomi ASEAN: Kompetisi atau Invasi. Kegiatan ini adalah program kerja Pengurus IKAMI Sulsel Cabang Jakarta. Meskipun ukuran halaman tak begitu luas, tapi hampir 20 orang hadir dalam kegiatan ini. Kuliner khas Sulsel menjadi hidangan utamanya. Sarabba dan ubi goreng.

Pukul 21.30 kegiatan dimulai. Moderator, Ilmayanti membuka acara. Dilanjutkan sambutan Ketua Umum IKAMI Sulsel Cabang Jakarta, Darwis yang sedikit memberi pancingan pada tema FGD. Bahwa, "Apakah MEA adalah sebuah kompetisi ekonomi atau MEA hanyalah sebuah invasi ekonomi?" Selanjutnya, dua narasumber, Faisal Muhlis dan Ridha "Dadang" mengawali FGD ini. Kanda Faisal Muhlis menyampaikan uraiannya tentang MEA dan dampak-dampaknya. Ia menjelaskan, "Ketika MEA telah dimulai, Indonesia akan menjadi target utama pasar, karena dari 633 juta penduduk ASEAN, 46 persennya adalah penduduk Indonesia. Bila tidak siap, Indonesia hanya akan menjadi pasar MEA." Kak Faisal juga berharap, Bahasa Indonesia menjadi bahasa utama Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Semetara, Kak Dadang menyampaikan dua pokok uraiannya mengenai MEA: Optimisme dan Pesimisme. "Kita dapat optimis, Indonesia tetap akan survive menghadapi MEA. Bangsa Indonesia sangat kuat bertahan hidup dalam situasi yang terus berubah-ubah. Masyarakat Indonesia tetap mampu survive saat MEA diterapkan. Namun, untuk menyiapkan pertarungan ekonomi di MEA, pemerintah harus melakukan perbaikan sistem yang menunjang kesiapan masyarakat menghadapi MEA." Namun di lain hal, kita wajar pesimis melihat kesiapan masyarakat kita menghadapi MEA. "Bila mengandaikan sepakbola, Indonesia akan dibantai dalam pertandingan MEA karena masih lemahnya sistem dan infrastruktur yang ada." Ungkap Kak Dadang, yang kemudian menyerahkan kembali kesempatan berbicara kepada moderator.

Peserta kemudian diberikan kesempatan menanggapi, bertanya, atau memberi pernyataan. Teman dari Ambon yang sedang kuliah di Makassar mengawali. (Saya lupa namanya). Dia bertanya pada kak Dadang: Apa yang harus disiapkan pemerintah dalam menyambut MEA?

Pada kesempatan selanjutnya, saya diberi kesempatan berbicara. Dalam pandangan saya, kesepakatan MEA patut dicurigai sebagai skenario Kapitalisme. Kapitalisme begitu menyukai skenario unifikasi, macam: Uni Eropa, Uni ASEAN, dan unifikasi-unifikasi yang bertujuan mengurangi perbedaan-perbedaan kultural yang dapat mengancam Kapitalisme. Kapitalisme membutuhkan unifikasi untuk mempermudah kepentingan dagang mereka. Nah, kondisi Indonesia dalam menyambut MEA masih belum siap. Tentunya, masyarakat Indonesia sulit untuk bersaing dengan negara ASEAN lainnya. Meskipun begitu, kita bisa optimis bila pemerintah mampu melakukan sebuah stimulus yang mampu menguatkan pelaku-pelaku usaha kecil dan menengah di Indonesia. Stimulus yang paling logis adalah penyaluran kredit berbunga rendah dan tanpa agunan. Saya pikir masyarakat kita memiliki potensi untuk membuat sebuah usaha perdagangan, namun akses terhadap modal adalah kendalanya.

Selanjutnya, Kak Ikhsan 'Cakep' mendapat kesempatan bicara. Ia mengemukakan bahwa masalah utama bangsa kita adalah masalah mental. Makanya dia mendukung konsep Revolusi Mental. "Lemahnya mental orang Indonesia yang membuat bangsa kita tidak maju-maju. Bagaimana tidak, ketika ada teman atau saudara kita yang sedang berkembang, kita justru membuat mereka jatuh. Dan hal ini benar-benar terjadi. Mental orang Indonesia harus diperbaiki. Manusia muda macam mahasiswa harus punya mimpi setinggi langit. Bila kita punya mimpi setinggi langit, dan jika kita jatuh, maka kita akan jatuh di antara bintang-bintang. Sudah saatnya kita perbaiki mental kita menghadapi MEA."

Selanjutnya, Kak Irwan menyampaikan bahwa MEA harus ditolak. MEA adalah sebuah petaka yang akan menghancurkan perekonomian Indonesia. "Bila kita analogikan, masyarakat Indonesia baru belajar berenang kemudian harus bertanding dengan perenang-perenang handal dari Singapura, Thailand, dan negara ASEAN lainnya." MEA akan sangat merugikan Indonesia. Sebaiknya MEA dibatalkan.

Setelah kak Irwan, kembali kak Dadang berbicara dan sekaligus menjawab pertanyaan pembicara pertama. Kak Dadang menambahkan bahwa MEA lebih banyak dampak buruknya daripada kebaikannya. "Misalnya saja UMP (Upah Minimun Regional) setiap negara berbeda. Di Indonesia para pekerja mendapat gaji hanya untuk perut dan kebutuhan pokoknya. Tak ada untuk hal-hal lain di luar kebutuhan pokok. Ini yang berbeda dengan negara ASEAN lainnya yang ber-UMP tinggi.

Pada saat kak Ridha "Dadang" menanggapi peryataan dan pertanyaan peserta yang hadir dengan menekankan bahwa MEA lebih bnyak negatif daripada positifnya, didukung oleh pernyataan kak Irwan bahwa MEA harus ditolak, timbul pro dan kontra antara sesama peserta, sehingga banjir interupsi pun terjadi. Rahim dan kak Nandar saling mengajukan pendapatnya masing-masing secara bersamaan dengan suara bernada tinggi. Lalu, kak Ridha "Dadang" juga turut meramaikan suasana yang tetap berpendirian bahwa MEA lebih banyak negatifnya. Ia menyampaikan dengan nada suara yang agak tinggi, dan dengan senyum yang agak dipaksa. Yang lain juga tak mau kalah dan saling angkat tangan mengajukan interupsi, sehingga moderator pun yang notabene adalah mahasiswa baru nampak kebingungan untuk mengendalikan suasana forum yang mulai memanas. Namun semua kembali kondusif.

Selanjutnya, Mutiara, dari IKAMI Sulsel Cabang Bogor bertanya kepada Kak Ikhsan 'Cakep' tentang bagaimana memperbaiki mental anak bangsa? Kemudian kak Iksan menjawab kembali soal bagaimana meninggikan mimpi. Setelah itu, Rahim bin Lasupu mendapat kesempatan berbicara. Rahim menyampaikan soal tinjauan mengenai investasi dan hukum MEA. Lalu dilanjutkan oleh Kak Nandar. Ia sepakat masyarakat harus tetap optimis menyambut MEA. Indonesia punya banyak SDA untuk dipakai memasuki MEA. Ekonomi kreatif, misalnya.

Selanjutnya, saya diberi kesempatan lagi. Saya hanya mempertegas pernyataan pertama. Bahwa MEA sebaiknya ditolak. Namun, bila tidak, pemerintah harus berani mempermudah akses terhadap modal. Pemerintah harus menyalurkan kredit-kredit berbunga rendah tanpa agunan. Selanjutnya kak Irwan juga mempertegas penolakannya terhadap MEA. Dalam menyambut MEA, kita tidak hanya memikirkan diri kita (kaum terdidik) yang kemungkinan siap menyambut MEA, yang jumlahnya berkisar 8%. Tapi, bagaimana kita memikirkan negara bangsa kita yang lain (sekitar 92%), yang kemungkinan akan merasakan dampak langsung MEA yang akan sangat liar.

Kesempatan kemudian diberikan  kepada kak Faisal Muhlis untuk memberi pernyataan penutup. Setelah itu acara selesai dan masih banyak perdebatan yang terjadi. Meskipun begitu, apresiasi yang besar perlu kita berikan kepada Pengurus IKAMI Sulsel Cabang Jakarta yang telah mengadakan acara FGD ini. Acara ini tidak hanya membangkitkan nalar kritis kita, tapi dapat memperkuat ikatan kekeluargaan kita. Perbedaan pendapat akan sering kita jumpai di manapun kita berada.

Ewako IKAMI Sulsel!

Posting Komentar untuk "FGD IKAMI Jakarta, MEA: Sebuah Kompetisi atau Invasi"